Ok. Hari ini gw bete berat karna tadi pagi gw kena TILANG. Jadi ceritanya, gw mo jemput bokap di bengkel. Mobilnya ditinggal disana. Jadilah setelah bokap nelpon minta jemput, gw buru2 berangkat naik motor. Karna gw pikir letak bengkel itu deket, gw ngga bawa dompet apalagi surat2. Pas lagi nglamun di jalan gitu, eh dari jauh gw liat segerombolan polisi berdiri. Spontan gw bengong dan menghentikan motor. Yang gw pikirin pertama adalah GIMANA CARANYA KABUR. Tapi dasar nasib, polisi2 itu ngeliat gw dan menyuruh gw untuk maju.
“Selamat pagi, Mbak. Bisa lihat surat2nya?” Polisi ganteng itu bertanya pada gw.
“Anu, pak. Saya ngga bawa dompet.” Kata gw dengan polosnya.
“Baik. Mbak jalan kesana ya.”Dia menunjukkan sebuah tempat yang ada meja dan 2 polisi wanitanya. Meja terdakwa. Masih dengan tampang begok-memelas, eh motor gw pun secara paksa diambil alih sama polisi ganteng itu. Gw pun akhirnya jalan ke tempat yang dimaksud.
Kali ini gw berhadapan dengan polisi wanita (polwan) berbehel dan bermata sipit. Sepertinya orang cina.
“Namanya siapa Mbak?” tanya polwan berbehel dan bermata sipit itu. Waktu dia ngomong, gw bisa melihat dengan jelas behel yang menghiasi gigi2nya itu.
“Yoan.”
“Pekerjaan?”
“Mahasiswa.”
“Kuliah dimana?”
“Sebenarnya sudah lulus. Dulu di atmajaya.”
“Ngambil?”
”Hukum.” (Nyesel ngomong. Anak hukum kok kena tilang)
“Jadi karna Mbak ngga bawa surat2, motornya disita dulu ya. Nanti bisa diambil di Polres dengan membawa STNK.”
WHAT?
Dia yang ngliat raut muka gw hampir mewek dan sangat memelas ini, lalu berkata lagi, “Minta dijemput aja.”
“Haduh. Padahal saya ini mau menjemput ayah saya.”
Lemes.
Trus gw buru2 sms bokap minta jemput. Sempet kepikiran…kena omel deh gw nanti.
Setelah nunggu agak lama dan seperti anak ilang ditengah polisi2 menyebalkan itu(sori lho pak^^), bokap gw pun dateng.
Dan bokap gw itu langsung ke meja polisi yang sedang sibuk mencatat data mereka2 yang melanggar lalu lintas.
“Berapa pak?” kata bokap gw tanpa sedikit basa-basi ke polisi itu. Seolah2 bokap gw udah tau cara penyelesaian terbaik untuk sebuah pelanggaran lalu lintas. UANG.
“25 ribu untuk STNK…”
Itu yang gw denger pertama. Bokap pun langsung ngeluarin uang 50 ribu. Dan menunggu uang kembalian.
“Ya. Sudah ya.” Kata polisi itu langsung menganggap beres urusan. Ternyata, semua 50 ribu untuk SIM dan STNK.
Ternyata memang benar, uang adalah alat ampuh untuk menyelesaikan semua masalah ya. Entah itu di kalangan aparat hukum atau pemerintahan. Jadi teringat, lagu “Gosip Jalanan”nya Slank.
Bete berat gw ngga berhenti disitu. Sekarang berganti soal harga diri gw yang jatuh (sok mendramatisir). Pertama, harga diri gw sudah jatuh waktu bokap ngeluarin uang 50 ribu untuk membuat masalah selesai. Naluri anak hukum gw seperti diinjak2 (lagi2 mendramatisir). Jadi inget sama temen2 gw yang dulu aktivis di kampus. Surya dan Maskun. Mereka adalah manusia2 idealis, dan gw bilang bener2 anak hukum sejati. Gimana ngga, waktu mereka kena tilang, mereka ngga kayak kebanyakan orang awam yang dengan mudahnya bayar uang (berapapun ok asal selese) kepada polisi2 dengan harapan agar urusan tilang-menilang itu tidak sampe ke sidang. Dan emang Surya dan Maskun adalah penegak hukum sejati, mereka pun dengan lantangnya bilang ke polisi yang menilang mereka, “Saya ikut sidang aja, Pak.” Mereka ngga rela uang mereka masuk ke kantong2 polisi. Salut.
Lanjut ke masalah harga diri yang jatuh. Kedua, adalah waktu si pak polisi yang nerima duit 50 ribu gw itu nanya umur gw ke bokap.
“Putrinya umur berapa pak?”
Gw dengan yakin dan pede nya ngomong, “23 pak.”
“Nanti dibuatkan SIM ya pak anaknya.” Polisi itu bilang ke bokap gw dan akhirnya nanya ke gw, “Udah punya SIM?”
“Udah.”
Dari cara polisi itu memandang dan berkata ke gw, barulah gw nyadar. GW DIKIRA ANAK DIBAWAH UMUR YANG BELOM PUNYA SIM BERANI BAWA MOTOR KEMANA-MANA. Haduh.
Kadang repot juga punya tampang dan postur kayak anak kecil imut-imut gini. Hueks^^