EVERYTHING IS ABSURD
Everything is absurd. Bahkan kamu yang kelihatannya nyata, tapi kamu nggak lebih dari KOSONG. feel nothing aja, sama yang gue rasain sekarang. Benar kata Noriyu, mati dan hidup hanya dipisahkan oleh benang tipis peristiwa. Bagi yang hidup, mati akan terasa begitu fiktif.
Every day is a new hope. Saya butuh energi extra untuk terus melihat ke depan, dan tidak terus-terusan melihat ke belakang. Banyak hal yang bikin hidup mandeg. Mutung. Marah buat hal-hal yang nggak penting. Padahal kalau mau sedikit optimis, di luar sana masih banyak kok harapan yang pasti jauh lebih baik. Suatu kenyataan hidup yang menenangkan hati kita, yang harus selalu kita ingat, adalah bahwa ketika satu pintu menutup, pintu yang lain akan membuka dengan sendirinya.
Siklus kehidupan masih sama, bicara tentang kesedihan dan kebahagiaan. Tapi menurut saya, semua itu abstrak. Orang-orang sibuk mencari kesenangannya sendiri-sendiri, mencari yang hakiki dari makna hidup itu sendiri. Lalu ketika masalah datang, mereka susah payah untuk bertahan dan seperti kehabisan akal, mencari cara untuk keluar dari kerumitan masalah yang kadang mereka buat sendiri. Ironis. Sampai-sampai intelektualitas dan kebodohan seakan berjalan bersama.
Manusia bodoh. Itulah saya. Dan kamu. Manusia mempunyai kebebasan, namun tidak semua dengan ‘pintar’ mengartikan kebebasan itu sendiri. Bebas berpikir, berbicara, dan berekspresi. Batas-batas kebebasan itu sendiri menjadi rancu. Hanya manusia bijak yang mampu mengolah kebebasan dengan tidak menyalahi norma dan aturan-aturan yang sudah ada. Seharusnya semua orang bisa ‘wise’, tidak untuk orang lain tapi untuk dirinya sendiri. Bagaimana menjadi manusia yang baik dengan attitude yang sudah pasti tidak menyimpang. Susah memang menjadi ‘normal’ ditengah-tengah dunia yang semakin gila.
Manusia terlahir sebagai makhluk egocentric. Egoist. Tapi untungnya, sejak kita masih kecil orangtua sudah mendoktrin lengkap tentang pelajaran moral. Bagaimana harus bersikap sopan terhadap orang yang lebih tua, ramah terhadap semua orang bahkan menolong orang yang tidak kita kenal. Ditambah lagi pikiran dan tindakan kita terkonsep oleh agama yang kita anut. Wajar kalau manusia kadang jenuh dengan hidup mereka yang penuh dengan aturan, norma dan konsep-konsep baku yang mereka buat sendiri.
Setiap manusia pernah mengalami titik kejenuhan, suatu masa dimana hidup terasa membosankan. Tidak sedikit dari mereka yang sedang dilanda jenuh (yang sudah mencapai stadium 4), mendadak menjadi ‘gila’ karena putus asa, tidak ada harapan. Bunuh diri adalah salah satu alternatif yang kini marak terjadi. Betapa harga sebuah nyawa seperti barang murah yang diobral di etalase toko. Manusia tidak lagi menjadi manusia yang mulia dengan akhlak dan moral, yang pastinya semuanya itu tidak dimiliki binatang. Tapi manusia memang lemah. Tercipta sebagai makhluk pendosa yang bisa kapan saja berbuat dosa. Lalu besok menjadi suci dengan berlindung pada agama. ‘Tomat’, hari ini tobat, besok kumat. Sudah menjadi sifat manusia bahwa manusia itu labil, makanya mereka mencari sesuatu yang bisa membuat jiwa mereka tetap stabil. Pencarian yang sia-sia, maaf kalau saya salah. Saya tetap pada pendirian saya, everything is absurd.
Sebenarnya kalau harus mengartikan secara harafiah atau detail, saya juga agak bingung dengan kata absurd itu sendiri. Aneh, tak masuk akal. Hidup yang kita jalani memang aneh. Apa yang kamu lihat, yang kamu punya, yang kamu cinta sekarang, semua bakal hilang. Karena udah dari sononya, kalau nggak ada satupun yang abadi. Bahkan jiwa kita yang terperangkap dalam sebuah raga, yang bisa mati kapan pun. Sampai pada akhirnya, saya mempertanyakan eksistensi diri saya. Saya hidup untuk siapa. Untuk apa.
Jelas saya nggak mau seperti kamu atau mereka yang mengalami kemerosotan moral. Tidak juga ingin menjadi bodoh, hanya kar’na merasa KOSONG. Satu-satunya yang saya ingat ketika saya masih kecil adalah ketika ibu saya berkata bahwa saya ini lahir bukan dari pertemuan antara sperma dan ovum, tapi kar’na miracle. Keajaiban dari Yang Maha, yang akhirnya saya tahu bernama Tuhan. Tapi jujur saya sedikit kesal ketika tahu bahwa untuk mengenal sosok tuhan itu sendiri dipersulit dengan konsep-konsep yang diajarkan agama. Agama manapun seperti mengkotak-kotakkan keimanan itu sendiri. Sebagai kaum awam saya sedikit kecewa tapi saya hanya bisa ‘nrimo’ selagi itu nggak merugikan saya. Toh, setidaknya ada hal baru yang saya pelajari, bahwa di dunia tidak ada yang abadi sebab keabadian itu sendiri Tuhan. Namun saya tidak lantas merasa puas, sebab saya masih bimbang dan sedikit cemas, dengan satu pertanyaan yang tiap malam mengganggu tidur saya. Kalau saya mati, saya pergi kemana.
Some people confused with their life. .
00:10 20-21 agsts 07